MAKANAN KHAS GEMBONG : TAPE GEMBONG

K

Kecamatan Gembong yang terletak di lereng Gunung Muria selama ini dikenal sebagai destinasi wisata dengan panorama alam – nya yang asri dan indah.

Sebut saja  Waduk Seloromo Gembong dan Waduk Gunung Rowo  dan kawasan Perkebunan Kopi Jolong yang selama ini identik sebagai tujuan wisata. Daerah ini juga mendunia lewat produk holtikultura be – rupa jeruk Pamelo Madu Ba – geng. Tak hanya itu, daerah yang mayoritas penduduknya ber pro fesi petani ini juga memiliki kuliner khas yang sangat ter kenal, yakni tape Gembong.

Usaha pembuatan jajanan ini bahkan sudah berumur 60 ta hun dan sudah sampai generasi ketiga. Salah satunya adalah Sawi. Perempuan paruh baya ini mengikuti jejak orang tuanya membuat tape untuk dijual di Pasar Puri Baru, Kecamatan Pati. Setiap hari, ia mengha bis – kan satu kuintal ketela pohon untuk dijadikan makanan yang bertekstur lembut tersebut.

Dibantu suaminya, Jasri, dan dua anaknya, Sawi meng – habiskan hari setelah selesai berjualan untuk membuat tape di rumahnya di Dukuh Bergad, Desa Gembong RT 4 RW 8 Ke – ca matan Gembong. Di wilayah tersebut, ada empat pengusaha tape besar dan beberapa peng – usaha tape kecil yang menjadi – kan usaha tersebut sebagai usaha sampingan saja.

“Keluarga kami berjualan tape di pasar Puri sejak 40 ta – hun yang lalu, biasanya pulang ke Gembong sekitar pukul 09.00 atau 0.00 WIB, atau me – nyesuaikan habisnya dagang – an,” ujarnya, Senin (7/11). Sawi menceritakan, untuk membuat tape diperlukan wak – tu tiga hari dua malam. Tahap – an dimulai dari mengupas kete – la hingga tape tersebut siap dikonsumsi. Untuk penge mas – an ada yang masih mengguna – kan cara tradisional, yaitu menggunakan daun pisang, dari besek dari anyaman bambu dan memakai plastik.

Sementara untuk harga, ia biasa menjual setiap 1 kg tape dengan harga Rp6.000. Namun, Sawi juga biasa menjual tape dalam kemasan kecil seharga Rp2.500. Pengusaha tape Gembong lainnya, Jumi, malah sudah meng gunakan besek untuk dija – dikan wadah tape. Dia me milih menggunakan besek ka rena tam pilannya yang lebih me narik dan mudah dibawa, terutama jika dijadikan oleh-oleh.

“Dalam satu hari, kami bisa menjual an – ta ra 80-100 besek tape Gem – bong. Untuk satu be sek, kami jual Rp5.000,” tutur wanita yang sudah menjalani usaha tape selama 30 tahun lebih tersebut. Daya tahan tape yang hanya bertahan selama dua hari men – jadikan Sawi maupun Jumi ka – lang kabut jika dagangan sedang sepi. Padahal, dalam beberapa tahun ini, peminat tape memang terus menurun.

Itulah yang membuat mereka sedikit demi sedikit mengu – rangi jumlah produksi harian untuk meminimalisasi ba nyak – nya tape yang terbuang. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperin – dag) Kabupaten Pati Riyoso melalui Kabid Perdagangan Edy Sutikno mengatakan, selama ini pihaknya sudah mempunyai program pengembangan UMKM meliputi pelatihan teknis produksi hingga pelatihan pemasaran produk.

“Apalagi, sesuai Perbup Nomor 29 tahun 2015 terkait pencanangan sikap cinta produk budaya asli wong Pati, maka setiap toko modern di Pati wajib membuat pojok UMKM yang akan diisi produkproduk asli Pati

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan