Geliat Perpustakaan Kampung di Tengah Keterbatasan

Berbicara tentang perpustakaan, yang ada dalam benak kita adalah sebuah gedung, yang memiliki banyak koleksi buku tertata dalam rak-rak panjang nan elegan, berjajar meja kursi nan rapi yang bisa dipakai oleh pengunjugnya. Tapi yang ini berbeda, perpustakaan ini berbeda, tak ada gedung/ tempat khusus, tidak pula ada meja kursi yang dapat digunakan oleh pengunjung kala membaca koleksi buku. Plus-nya lagi, yang datang keperpustakaan ini (pengunjung) adalah mereka yang baru mengenal buku (anak-anak). Ya, itulah perpustakaan sederhana di Rumah Saudara Nur Hidayat dan Mustaqim Dk. Ngembes RT 01/RW XI Desa Gembong.

 

Jangan bayangkan kondisi fisik perpustakaan yang berada dalam sebuah gedung khusus/ bangunan khusus. Disana, dirumah kawan saya (Nur Hidayat dan Mustaqim) yang dipakai untuk perpustakaan, tidak ada tempat khusus, tempat istimewa, atau ruang yang memang diperuntukkan untuk tempat membaca anak-anak yang berkunjung. Seperti yang kawan sekalian lihat dari gambar (foto), buku-buku  hanya diletakkan diatas tikar atau diletakkan didalam kardus. Sementara anak-anak yang datang membaca hanya duduk dan tiduran diatas tikar dan dengan penerangan seadanya.

Aktifitas yang ada didalamnyapun tidak seperti perpustakaan yang seringkali saya lihat kebanyakan. Dimana setiap harinya pasti ada pengunjung yang masuk kedalam perpustakaan (entah akan membaca buku, mencari buku bacaan, atau akan meminjam buku), atau mengembalikan buku-buku yang dipinjam. Seperti yang dikatakan oleh kawan saya,  bahwa anak-anak tidak setiap hari datang membaca hanya setiap hari minggu. Hal ini bukanlah tanpa alasan, sebabnya setiap harinya mereka sekolah sampai siang, siang istirahat sebentar, sore pergi  kesekolah agama (semacam belajar mengaji), malam tentu saja belajar dirumahnya masing-masing (itu kalau mereka belajar). Kalau seperti itu keadaannya, kapan mereka ada waktu datang untuk membaca?? Anak-anak datang membaca dihari minggu. Atau….kala sekolah agamanya (istilahnya “ngaji”) libur (diantara salah satu hari, senin-sabtu), mereka akan datang untuk membaca.

Kadang, mereka datang tidak hanya untuk membaca semata. Jadi, ketika mereka datang keperpustakaan tersebut, ada juga yang minta diajari salah satu pelajaran sekolah (misal matematika). Tentu saja dengan senang hati kawan saya akan mengajarinya. Bahkan les gratis diberikan oleh kawan saya. Mengapa?? Pada dasarnya, les ini-itu banyak, tapi….harus membayar. Dan…tak semua anak masuk dalam golongan mampu orangtuanya. Tentu akan terdengar prihatin, bukan…kala kita mendengar sebuah kalimat, “mau ikut les tidak mampu bayarnya, belajarpun malas, terus mau jadi generasi apa?”…sesak didada, kan?? Oleh karenanya, meski tanpa bayaran, les gratis akan diberikan hanya dengan semangat dedikasi tinggi sebagai seorang yang peduli terhadap sosial (dan semangat kami untuk sama-sama mencerdaskan anak bangsa melalui perpustakaan mini ini). Perlu untuk kawan sekalian tahu, meski dikampung, didesa semacam ini, yang namanya les (bimbingan belajar) itu mahal, dua tahun yang lalu pernah saya bertanya pada seorang kawan lain yang punya profesi guru, perjam/ anak sudah Rp. 20.000; kala itu, entah kalau saat ini berapa perjam/ anak. Tentu saja kalau kawan saya mau, ia bisa saja memberikan les dan meminta bayaran bukan…atau menutup mata tak peduli, mau muridnya bodoh atau apa tak peduli. Itulah yang bisa diberikan dari merintis perpustakaan dengan fasilitas yang masih minim, datang membaca secara gratis, sekaligus untuk belajar dan yang tidak kalah penting tujuan mulia yang lain adalah mengurangi anak ketergantungan Gadget, menambah sosialisasi antar anak dan memberikan pengajaran tentang permainan lama yang kaya akan prinsip sosial karena jika generasi yang sekarang tidak diperkenalkan pasti permainan -permainan jaman dulu akan terkikis waktu dengan sendirinya.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan